Kegelapanadalah lambang kejahatan. Kejahatan laksana kegelapan tak usah dikutuk melainkan diterangi dengan sinar cahaya, kendati pun hanya oleh cahaya sebatang lilin kecil. Maka, jauh lebih baik untuk menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan. (Sumber: idem).
Sebaikbaik air yang menyirami pohon Indonesia adalah: 1. Para pengusaha yang bergerak dalam sektor riil, menciptakan lapangan kerja dan tidak bergantung pada proyek "government spending" pemerintah 2.
LebihBaik Menyalakan Lilin Daripada Mengutuk Kegelapan. 0 Esai Service AC Koq Mahal, Gak Percaya ? Tanya Aja Kang PeTe. 1 Katolisitas Episode Mengantar Tuhan Mengunjungi Keluarga | Tentang Pelayan Pembawa Komuni
Tentang Mampu menyusun dan menyajikan Laporan Keuangan Perusahaan Dagang dan Perusahaan Jasa. Mampu menghitung Pajak, membuat Laporan Laba Rugi, dan. Menguasai Ms. Office dengan sangat baik. Pernah mengikuti dan menyelesaikan Pendidikan Pajak Terapan Brevet AB Oktober 2019 s/d Februari. 2020 Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Artha Prima.
Vay Tiền Nhanh Chỉ Cần Cmnd. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Lebih baik menyalakan lilin betapa kecil pun cahayanya dari pada mengutuki kegelapan. Itu petuah klasik untuk membangkitkan semangat hidup, agar senantiasa tegar betapa pun beratnya tantangan yang kita ketika yang dipermasalahkan adalah pemadaman listrik yang berkepanjangan di Sumut, petuah lama itu bisa tak laku bagi orang yang merasa teraniaya saat lampu padam mendadak saat sedang asyik nonton tv, kutak-katik komputer, atau saat baru saja menanak nasi di magic-com. Lampu listrik padam bagi remaja pacaran mungkin menyenangkan, menambah indahnya suasana romantisme. Tapi, tentu tidak bagi pelanggan yang menjadikan listrik bagian vital dari geliat kehidupan berbisnis atau kemerfekaan menikmati hidup terang listrik padam- bisa pagi, siang, atau tengah malam- warga menyalakan lampu alternatif kalau ada, atau menyalakan lilin. Tapi, bisa dimaklumi saat seseorang menyalakan lilin karena lampu padam jelang tengah malam, mulut pun komat kamit melontarkan sumpah serapah atau caci maki mengutuki kegelapan. Sudah 68 usia republik ini, barulah di era reformasi modern ini pemadaman listrik makin menggila, keluh seorang warga Kota Tarutung, seraya mempertanyakan pernyataan petinggi PLN bahwa pemadaman listrik di Sumut hanya sampai Maret 2014. Nyatanya awal April ini pemadaman masih ada meski frekuensi pemadaman tak segencar protes? Mau demon? Mau caci maki? Itu mah percuma. Soalnya PLN boleh tak merasa bersalah apa lagi berdosa, karena krisis listrik memang benar bukan dikarang-karang. Tapi bahwa PLN lamban bikin terobosan solution, mungkin bisa juga. Kan tak logis orang PLN senang dimaki, tak mungkin orang PLN tega mendengar orang mengutuk kegelapan seraya menyalakan krisis listrik entah hingga kapan berujung, sudah bagaimana kabarnya kinerja Sarulla Operation Lestari SOL yang tengah mengelola pembangkit listrik tenaga panas bumi di Kecamatan Pahae Jae Kabupaten Tapanuli Utara. Proyek berskala raksasa itu lama terkatung-katung sejak terbitnya Keppres No 5 Tahun 1998 akibat krisis moneter. Baru dua tahun terakhir mulai direalisasi lagi, walau operasional terkesan bumi Sarulla salah satu potensi faktual yang dapat memadamkan panas nya suhu kemarahan rakyat yang merasa tekanan darahnya sering tak beraturan gara-gara pemadaman listrik tak beraturan belakangan ini. Lihat Kebijakan Selengkapnya
ALAT bangun peradaban dalam dunia ketiga adalah satu, sadar baca-tulis. Sentuhan jemari dalam tulisan ini akan bermuara pada satu pembahasan, menggagas ke depan. Apa yang perlu digagas? Siapa yang harus mengawal? Agaknya tulisan ini Sedikit terdengar seperti nada bicara seorang pengidap asma yang berbau utopis. Tidak masalah. Bukankah perubahan-perubahan besar dalam dunia praktis berawal dari ide dan pemikiran; gagasan dan kemauan besar untuk berubah dan mewujudkan. Steve Covey aku-lirik dengan kalimatnya yang seperti berbau sarkasme tercium seperti berikut, “Apa yang akan kau tinggalkan di antara kedua patok nisanmu?”, atau kutipan dari penyair nasional dari Jombang, Sabrank Suparno dengan puisinya yang berucap, “Penulis tak akan lenyap dari dunia, sebaliknya dunia bisa lenyap dalam diri penulis.” Maka tamsil yang lahir dari kedua kutipan tersebut adalah hal sangat mungkin bila kita kontekskan bagi masyarakat Nahdlatul Ulama NU dalam upaya pengembangan kebudayaan dan peradaban. Pendek kata, warga NU sudah semestinya kembali dan kembali memaksimalkan sadar baca-tulis, SABTU. Sebab hal ini secara umum akan menjadi wasilah kebudayaan yang berpotensi mengangkat inteligensi dalam peradaban manusia. Tentu kekuatan pergulatan budaya Sabtu memiliki filosofi yang menghistoris. Pentingnya budaya baca-tulis dalam kehidupan NU menjadi tantangan dan peluang besar yang –mungkin—akan berkontribusi atas perubahan kebudayaan di Indonesia. Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari misalnya, aku-lirik memiliki kebiasaan membaca dan menulis yang luar biasa. Mengapa kita tidak membaca dan menulis? Kita sering mengagumi beliau tetapi lupa mengikuti kebiasaan beliau yang luar biasa dampaknya terhadap peradaban Islam dan Indonesia. Berkaca pada Jepang, Eko Laksono dalam banyak tulisannya berucap, “Bangsa Jepang adalah pembaca terhebat di dunia. Elizabeth I, Napoleon, Hitler, Carnegie, Akio Morita, dan Bill Gates semuanya pembaca.” Di Jepang, antara pemerintah, sekolah, masyarakat, dan keluarga bergerak bersama untuk membudayakan baca-tulis. Tradisi ujian nasional misalnya, di Jepang justru merupakan budaya yang dinanti bukan sebaliknya dipersoalkan. Saat itulah, maka anak-anak usia 12-13 tahun belajar keras sampai larut malam, sampai-sampai tidur dalam semalam hanya 2-3 jam per hari. Itu pun, berlangsung hampir tiga bulan. Ujian nasional di Jepang dikenal dengan nama Shiken Jigoku Neraka Ujian. Belum lagi, ibu-ibu di Jepang meskipun mereka terdidik rata-rata sarjana bahkan sampai bergelar doktor, lebih memilih mendampingi anak-anak belajar di rumah. Di Jepang dikenal dengan apa yang disebut Kyoiku Mama Ibu Pendidikan. Mereka akan meneliti dengan cermat apa yang telah dipersiapkan, dilakukan, dan dihasilkan oleh anak-anaknya. Mereka mempelajari bahan-bahan pelajaran sekolah dan mendampingi anak. Mari belajar budaya baca-tulis bangsa Jepang. maka ada pokok-pokok pengalaman yang aku-lirik sangat menarik. Pertama, budaya membaca di Jepang luar biasa. Indikasinya, banyak toko buku yang tersebar. Ini terkait dengan sifat tekun, pekerja keras, dan keinginan untuk selalu belajar. Jumlah toko buku di Jepang sama banyaknya dengan jumlah toko buku di Amerika Serikat AS. Ironisnya, negeri adidaya itu 26 kali lebih luas dan dua kali berpenduduk lebih banyak daripada Jepang. Kedua, kuatnya tradisi belajar dan membaca. Keinginan selalu belajar telah tertanam kuat pada warga Jepang. Ini didasarkan pada kebiasaan i sifat selalu memperbaiki hasil kerja, dan ii adanya budaya baca-tulis yang mengakar besar di Jepang. Negeri Sakura menyediakan banyak fasilitas membaca di tempat umum. Di stasiun, bus umum, kereta, atau halte, antre di kantor-kantor pelayanan masyarakat, mudah ditemui orang-orang yang beraktivitas membaca. Ketiga, kuatnya dukungan fasilitas membaca. Fasilitas baca-tulis mudah dijangkau oleh warga Jepang. Kebahagiaan bagi penulis dan penerbit buku. Ternyata, sesuai dengan data yang dirilis Bunka News, jumlah toko buku bekas menempati persentase sepertiga di antara total jumlah toko buku di Jepang. Keberadaannya dinilai sebagai penolong bagi para peminat buku. Keempat, keluarga sebagai penyangga tradisi baca-tulis. Sebagaimana telah disinggung di awal, bahwa orang tua di Jepang khususnya ibu mendampingi dan ikut mempelajari apa yang sedang dipelajari anaknya. Alangkah indahnya jika ini terjadi di Indonesia. Kelima, penghargaan yang tinggi oleh pemerintah dan masyarakat. Kondisi demikian menjadi sangat penting mengingat budaya baca-tulis Jepang itu telah mengakar dari atas ke bawah. Baik itu pemimpin, birokrat, guru, dosen, artis, dan pelaku seni lainnya; semuanya memiliki kecintaan yang sama terhadap budaya baca-tulis. Belajar dari pengalaman inspiratif negara Jepang maka merindukan tradisi Sabtu, di kalangan NU menjadi mimpi besar yang membutuhkan dukungan semua pihak. Semua elemen, semua unsur, dan semua aspek yang ada di NU. Mimpi besar budaya ini tentu secara historis bersifat Islami dan secara global merupakan tuntutan zaman yang tidak bisa dihindari. Membudayakan baca-tulis yang aku-lirik sesungguhnya tidaklah sulit mengingat keduanya merupakan keterampilan. Kemahiran sebuah keterampilan hanyalah hukum kali dari berapa sering kita melakukannya. Akselerasi kemahiran baca-tulis dengan sendirinya menuntut frekuensi optimal jika menginginkan hasilnya maksimal pula. Masyarakat berbudaya baca-tulis akan menjadi aset besar bagi suatu bangsa. Maka mari menyalakan lilin berawal dari ide dan pemikiran; gagasan dan kemauan besar untuk berubah dan mewujudkan. Daripada mengutuk kegelapan NU dengan anggapan-anggapan basis NU hanya pada kegiatan-kegiatan spiritual-spiritual semata; pengajian demi pengajian, dan lain-lain yang mengakar rumput lainnya. Mari nyalakan! * * Aktivis rebahan di PASCA Tahfidzul Qur’an Sukorejo.
lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan